Aksara Jawa Nuswantoro (klik fotonya)

image

ASAL USUL MULA HURUF DI DUNIA

Kawi (juga dikenal dengan nama Kavi) adalah nama untuk sistem penulisan atau aksara yang berasal dari Jawa dan digunakan di sekitar Semenanjung Malaya dalam berbagai prasasti dan tulisan dari abad ke-8 hingga sekitar tahun 1500 M. Kawi juga merupakan nama dari bahasa, yaitu Bahasa Kawi yang digunakan dalam prasasti dan tulisan tersebut di atas, namun lebih umum disebut sebagai Bahasa Jawa Kuna.

Aliran sastra yang ditulis dengan aksara ini disebutKakawin.


Aksara Kawi berasal dari "Aksara Pallawa" menurut para ahli Studi Asia Tenggara seperti George Coedes and D. G. E. Hall sebagai dasar dari beberapa sistem penulisan atau aksara di Asia Tenggara.


Tulisan beraksara Kawi paling awal diketahui berasal dari zaman Kerajaan Singasari di Jawa. Sedangkan yang lebih baru ditemukan dalam masa Kerajaan Majapahit, juga di pulau Jawa dan Bali, Kalimantandan Sumatera.
Huruf Kawi termasuk jenis abugida, yang artinya huruf-huruf dibaca dengan vokal yang menyertainya. Tanda diakritik digunakan untuk membunyikan vokal dan mewakili konsonan murni, atau mewakili vokal-vokal lain.


Dokumen terkenal yang ditulis dalam huruf Kawi adalah prasasti Keping Tembaga Laguna (Laguna Copperplate Inscription), yang ditemukan 1989 [2] diLaguna de Bay, di metropleks Manila, Filipina. Prasasti ini ditulis pada 822 tahun Saka atau setara dengan tanggal 10 Mei 900 M, dan ditulis dalam Bahasa Melayu Kuna dan mengandung banyak kata pinjaman / serapan dari bahasaSansekerta dan beberapa dari elemen perbendaharaan kata non-Melayu yang asalnya meragukan antaralain dari Bahasa Jawa Kuna atau dari Tagalog Kuna. 


Dokumen ini, selain penemuan lain akhir-akhir ini di negara tersebut seperti Golden Tara dari Butuan serta tembikar dan artifak perhiasan emas dari abad ke-14 yang ditemukan di Cebu, merupakan hal yang sangat penting dalam upaya merevisi sejarah kuno Filipina (900–1521).


Sedangkan Hanacaraka atau dikenal dengan nama carakan atau cacarakan (bahasa Sunda) adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Melayu (Pasar),bahasa Sunda, bahasa Bali, dan bahasa Sasak.
Bentuk hanacaraka yang sekarang dipakai (modern) sudah tetap sejak masa Kesultanan Mataram (abad ke-17) tetapi bentuk cetaknya baru muncul pada abad ke-19. 


Aksara ini adalah modifikasi dari aksara Kawi dan merupakan abugida. Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili dua buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Aksara Na yang mewakili dua huruf, yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". Dengan demikian, terdapat penyingkatan cacah huruf dalam suatu penulisan kata apabila dibandingkan dengan penulisan aksara Latin.


Penggunaan (pengejaan) hanacaraka pertama kali dilokakaryakan pada tahun 1926 untuk menyeragamkan tata cara penulisan menggunakan aksara ini, sejalan dengan makin meningkatnya volume cetakan menggunakan aksara ini, meskipun pada saat yang sama penggunaan huruf arab pegon dan huruf latin bagi teks-teks berbahasa Jawa juga meningkat frekuensinya. 
Pertemuan pertama ini menghasilkan Wewaton Sriwedari ("Ketetapan Sriwedari"), yang memberi landasan dasar bagi pengejaan tulisan. Nama Sriwedari digunakan karena lokakarya itu berlangsung di Sriwedari, Surakarta. Salah satu perubahan yang penting adalah pengurangan penggunaan taling-tarung bagi bunyi /o/. 
Alih-alih menuliskan "Ronggawarsita" (bentuk ini banyak dipakai pada naskah-naskah abad ke-19), dengan ejaan baru penulisan menjadi "Ranggawarsita", mengurangi penggunaan taling-tarung.
Modifikasi ejaan baru dilakukan lagi tujuh puluh tahun kemudian, seiring dengan keprihatinan para ahli mengenai turunnya minat generasi baru dalam mempelajari tulisan hanacaraka. Kemudian dikeluarkanlah Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga gubernur (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur) pada tahun 1996 yang berusaha menyelaraskan tata cara penulisan yang diajarkan di sekolah-sekolah di ketiga provinsi tersebut.
Tonggak perubahan lainnya adalah aturan yang dikeluarkan pada Kongres Basa Jawa III, 15-21 Juli 2001 di Yogyakarta. Perubahan yang dihasilkan kongres ini adalah beberapa penyederhanaan penulisan bentuk-bentuk gabungan (kata dasar + imbuhan).


yg satu dari Pallawa yg satu dari Brahmi
Berarti bukannya aksara Kawi berevolusi jadi Hanacaraka, tapi entah bagaimana dulu kita memasukkan lagi aksara baru dari luar untuk dimodifikasi



Rumpun Bahasa Indo Eropa terdiri atas cabang-cabang Bahasa Jerman, Armenia,Baltik, Slavia, Roman, Keltik, Gaulis dan Indo Iranika.
Cabang keluarga Bahasa Indo Eropa di Asia yang terbesar adalah kelompok Indo Iranika. Kelompok ini terdiri dari dua subkelompok yaitu Iranika dan Indika ( Indo Arya ). 
Subkelompok Bahasa Indo Arya dalam perkembangannya secra umum terbagi mejadi tiga periode yaitu, periode kuna (Old Indo Aryan) sekitar + 1500 SM, periode pertengahan (Middle Indo Aryan) sekitar + 500 SM dan terakhir adalah periode modern (Modern Indo Aryan) sekitar + 1000 M. pembagian antar periode tersebut hanya berrsifat perkiraan, sebab keberadaan antar periode pada kenyataannya saling tumpang tindih, bahkan penggunaan bahasa dari periode yang lebih tua tetap dipakai pada periode yang lebih muda.

Fase awal dari periode kuna (Old Indo Aryan) terwakili oleh bahasa yang digunakan dalam teks Weda. Weda yang tertua adalah Rig Weda yang merupakan kumpulan mantra-mantra religius. Teks ini diperkirakan berasal dari milenium kedua sebelum masehi. Teks-teks Weda lainnya yang juga berasal dari fase ini antara lain Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda. Tradisi Weda pada tahap selanjutnya menghasilkan karya sastra berbentuk prosa seperti Brahmana dan Upanishad. 

Bahasa yang dipakai di dalam teks-teks Weda merupakan bahasa kesastraan yang dipakai oleh para pendeta. Bahasa ini dikenal sebagai vaidiki bhasa. Selain itu di luar kesastraan Weda dikenal Laukiki bhasa yakni bahasa yang dipakai rakyat kebanyakan. Bahasa masyarakat kebanyakan ini kemudian diperbaiki dan ditata menurut aturan tata bahasa sehingga bebas dari kata-kata keliru yang biasa muncul.
Sehingga juga disebuat sebagai samskerta yakni sesuatu yang sudah diperbaiki atau dibersihkan. Penamaan dengan istilah bahasa Sanskerta merupakan penamaan yang tidak didasarkan asal bangsa pemakainya atau letak geografisnya.

Ahli tatabahasa yang terkenal dalam upaya pemurnian kembali bahasa dengan aturan tata bahasa adalah Panini (+ 400 SM). Melalui karyanya yang berjudul Astadhyayi, Bahasa Sanskerta menjadi dibakukan dan berkembang sejalan dengan peraturan tatabahasa yang telah ia buat. Dengan adanya aturan tatabahasa yang dibuat Panini tersebut, akibatnya muncul istilah prakrita bahasa umum, sederhana”. Bahasa Prakrit merupakan dialek umum yang berkembang secara alami. Karya Panini ini selanjutnya disempunakan olek Katyayana (+ 300 SM) dan Patanjali (+ 200 SM). 

Karya Panini ini dapat dianggap sebagai usaha yang menstabilkan tatabahasa Sanskerta dari karya-karya ahli tatabahasa sebelumnya seperti Yaska dalam Nirukta dari abad V SM. Panini dalam upaya standarisasi Bahasa Sanskerta diyakini menggunakan lingua franca dari daerah barat laut yang digunakan kaum agamawan dan kemudian dipakai pula dalam bahasa pemerintahan. Bahasa Sanskerta mulai dipakai sebagai bahasa ketatetapan resmi yakni pada masa dinasti Śaka dari daerah Ujjayinī ( 150 M ).

Pengaruh India diindikasikan mulai menyebar di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia antara abad II hingga III Masehi. Penyebaran ini diperkirakan melalui perdagangan laut. Kurun waktu tersebut bersamaan dengan dikenalnya teknologi transportasi laut, akibatnya pengaruh India mulai menyebar di wilayah persinggahannya yang kemudian menjadi dasar pokok dalam pendirian kerajaan-kerajaan di berbagai wilayah Asia Tenggara. Pengaruh India yang berupa ajaran agama Hindu-Budha masuk ke wilayah Indonesia bagian barat diperkirakan dibawa oleh guru-guru agama atau penduduk asli yang kembali ke negeri aslanya setelah lama bermukim di India. Para guru agama dan kaum terpelajar tersebut diperkirakan sebagai orang-orang yang mengenalkan Bahasa Sanskerta ke dalam rumpun Bahasa Austronesia yang termasuk di dalamnya Bahasa Jawa Kuna.

Rumpun Bahasa Austronesia yang juga disebut sebagai Melayu Polinesia mencakup bahasa-bahasa di wilayah Indonesia, Melanesia dan Polinesia. Penutur bahasa-bahasa Austronesia tersebar luas mulai dari sebelah barat yaitu Pulau Madagaskar hingga ke sebelah timur yaitu Pulau Paskah, serta di sebalah utara yaitu Pulau Formosa hingga ke selatan mencapai New Zealand. Hanya terdapat dua perkecualian kecil yaitu orang asli di Malaysia pedalaman yang menuturkan bahasa-bahasa rumpun Austroasia dan beberapa suku di Indonesia bagian timur yang menuturkan bahasa-bahasa Papua.

Rumpun Bahasa Austronesia mencakup bahasa-bahasa yang masih digunakan maupun bahasa yang telah punah. Bahasa-bahasa yang telah punah tersebut biasanya meninggalkan bukti tertulis yang menunjukkan tingginya peradaban di masanya. Bahasa-bahasa tersebut antara lain Bahasa Cham dan Bahasa Jawa Kuna yang keduanya termasuk dalam subkelompok Bahasa Melayu Polinesia Barat. Bahasa-bahasa yang digunakan pada kebudayaan kuna tersebut, di dalam studi perkembangan bahasa hanya disebut sebagai old language bukan sebagai bahasa awal ( proto language ).

Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu bentuk perkembangan dari Bahasa Proto Malayo Javanic yang merupakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa di Jawa pada masanya. Keberadaan Bahasa Jawa Kuna, di kawasan Pulau Jawa pada khususnya serta di kawasan Asia Tenggara pada umumnya, pada abad VI Masehi keberadaannya pernah dideskripsikan oleh sumber Cina yakni dengan penyebutan Kun Lun. 
Istilah Kun Lun digunakan untuk menyebut bahasa yang dipakai penduduk di daerah Sumatra, Jawa dan juga Campa. Hal ini dapat disebabkan karena bahasa-bahasa di berbagai daerah tersebut terdengar sebagai bahasa yang sama oleh para musafir Cina, selain itu bahasa-bahasa tersebut secara linguistis memang serumpun yang di dalamnya banyak dijumpai istilah-istilah dari Bahasa Sanskerta.

Berbeda dengan kemunculan dan perkembangan Bahasa Sanskerta yang dapat ditelusuri kembali dari masa yang paling tua melalui teks-teks Weda, Bahasa Jawa Kuna dalam kemunculannya dapat dikatakan muncul dengan tiba-tiba yakni dari suatu masa tanpa tinggalan tertulis tiba-tiba muncul tinggalan tertulis yang telah memiliki ciri-ciri perkembangan lebih lanjut sebagai satu bahasa Nusantara. Hal ini dipahami bila hanya didasarkan atas temuan prasasti berbahasa Jawa Kuna yang paling tua yaitu, Prasasti Sukabumi (804 M). Meskipun demikian, tidak berarti di Pulau Jawa sebelum tahun tersebut belum terdapat budaya tulis, tetapi tahun tersebut hanya merupakan titik awal ditemukannya prasasti berbahasa Jawa Kuna.

Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.


Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Subkelompok Bahasa Indo Arya dalam perkembangannya secra umum terbagi mejadi tiga periode yaitu, periode kuna (Old Indo Aryan) sekitar + 1500 SM, periode pertengahan (Middle Indo Aryan) sekitar + 500 SM dan terakhir adalah periode modern (Modern Indo Aryan) sekitar + 1000 M. pembagian antar periode tersebut hanya berrsifat perkiraan, sebab keberadaan antar periode pada kenyataannya saling tumpang tindih, bahkan penggunaan bahasa dari periode yang lebih tua tetap dipakai pada periode yang lebih muda.
Fase awal dari periode kuna (Old Indo Aryan) terwakili oleh bahasa yang digunakan dalam teks Weda. Weda yang tertua adalah Rig Weda yang merupakan kumpulan mantra-mantra religius. Teks ini diperkirakan berasal dari milenium kedua sebelum masehi. Teks-teks Weda lainnya yang juga berasal dari fase ini antara lain Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda. Tradisi Weda pada tahap selanjutnya menghasilkan karya sastra berbentuk prosa seperti Brahmana dan Upanishad. 

Bahasa yang dipakai di dalam teks-teks Weda merupakan bahasa kesastraan yang dipakai oleh para pendeta. Bahasa ini dikenal sebagai vaidiki bhasa. Selain itu di luar kesastraan Weda dikenal Laukiki bhasa yakni bahasa yang dipakai rakyat kebanyakan. Bahasa masyarakat kebanyakan ini kemudian diperbaiki dan ditata menurut aturan tata bahasa sehingga bebas dari kata-kata keliru yang biasa muncul.
Sehingga juga disebuat sebagai samskerta yakni sesuatu yang sudah diperbaiki atau dibersihkan. Penamaan dengan istilah bahasa Sanskerta merupakan penamaan yang tidak didasarkan asal bangsa pemakainya atau letak geografisnya.

Ahli tatabahasa yang terkenal dalam upaya pemurnian kembali bahasa dengan aturan tata bahasa adalah Panini (+ 400 SM). Melalui karyanya yang berjudul Astadhyayi, Bahasa Sanskerta menjadi dibakukan dan berkembang sejalan dengan peraturan tatabahasa yang telah ia buat. Dengan adanya aturan tatabahasa yang dibuat Panini tersebut, akibatnya muncul istilah prakrita bahasa umum, sederhana”. Bahasa Prakrit merupakan dialek umum yang berkembang secara alami. Karya Panini ini selanjutnya disempunakan olek Katyayana (+ 300 SM) dan Patanjali (+ 200 SM). 

Karya Panini ini dapat dianggap sebagai usaha yang menstabilkan t
atabahasa Sanskerta dari karya-karya ahli tatabahasa sebelumnya seperti Yaska dalam Nirukta dari abad V SM. Panini dalam upaya standarisasi Bahasa Sanskerta diyakini menggunakan lingua franca dari daerah barat laut yang digunakan kaum agamawan dan kemudian dipakai pula dalam bahasa pemerintahan. Bahasa Sanskerta mulai dipakai sebagai bahasa ketatetapan resmi yakni pada masa dinasti Śaka dari daerah Ujjayinī ( 150 M ).

Pengaruh India diindikasikan mulai menyebar di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia antara abad II hingga III Masehi. Penyebaran ini diperkirakan melalui perdagangan laut. Kurun waktu tersebut bersamaan dengan dikenalnya teknologi transportasi laut, akibatnya pengaruh India mulai menyebar di wilayah persinggahannya yang kemudian menjadi dasar pokok dalam pendirian kerajaan-kerajaan di berbagai wilayah Asia Tenggara. Pengaruh India yang berupa ajaran agama Hindu-Budha masuk ke wilayah Indonesia bagian barat diperkirakan dibawa oleh guru-guru agama atau penduduk asli yang kembali ke negeri aslanya setelah lama bermukim di India. Para guru agama dan kaum terpelajar tersebut diperkirakan sebagai orang-orang yang mengenalkan Bahasa Sanskerta ke dalam rumpun Bahasa Austronesia yang termasuk di dalamnya Bahasa Jawa Kuna.

Rumpun Bahasa Austronesia yang juga disebut sebagai Melayu Polinesia mencakup bahasa-bahasa di wilayah Indonesia, Melanesia dan Polinesia. Penutur bahasa-bahasa Austronesia tersebar luas mulai dari sebelah barat yaitu Pulau Madagaskar hingga ke sebelah timur yaitu Pulau Paskah, serta di sebalah utara yaitu Pulau Formosa hingga ke selatan mencapai New Zealand. Hanya terdapat dua perkecualian kecil yaitu orang asli di Malaysia pedalaman yang menuturkan bahasa-bahasa rumpun Austroasia dan beberapa suku di Indonesia bagian timur yang menuturkan bahasa-bahasa Papua.

Rumpun Bahasa Austronesia mencakup bahasa-bahasa yang masih digunakan maupun bahasa yang telah punah. Bahasa-bahasa yang telah punah tersebut biasanya meninggalkan bukti tertulis yang menunjukkan tingginya peradaban di masanya. Bahasa-bahasa tersebut antara lain Bahasa Cham dan Bahasa Jawa Kuna yang keduanya termasuk dalam subkelompok Bahasa Melayu Polinesia Barat. Bahasa-bahasa yang digunakan pada kebudayaan kuna tersebut, di dalam studi perkembangan bahasa hanya disebut sebagai old language bukan sebagai bahasa awal ( proto language ).

Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu bentuk perkembangan dari Bahasa Proto Malayo Javanic yang merupakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa di Jawa pada masanya. Keberadaan Bahasa Jawa Kuna, di kawasan Pulau Jawa pada khususnya serta di kawasan Asia Tenggara pada umumnya, pada abad VI Masehi keberadaannya pernah dideskripsikan oleh sumber Cina yakni dengan penyebutan Kun Lun. 
Istilah Kun Lun digunakan untuk menyebut bahasa yang dipakai penduduk di daerah Sumatra, Jawa dan juga Campa. Hal ini dapat disebabkan karena bahasa-bahasa di berbagai daerah tersebut terdengar sebagai bahasa yang sama oleh para musafir Cina, selain itu bahasa-bahasa tersebut secara linguistis memang serumpun yang di dalamnya banyak dijumpai istilah-istilah dari Bahasa Sanskerta.

Berbeda dengan kemunculan dan perkembangan Bahasa Sanskerta yang dapat ditelusuri kembali dari masa yang paling tua melalui teks-teks Weda, Bahasa Jawa Kuna dalam kemunculannya dapat dikatakan muncul dengan tiba-tiba yakni dari suatu masa tanpa tinggalan tertulis tiba-tiba muncul tinggalan tertulis yang telah memiliki ciri-ciri perkembangan lebih lanjut sebagai satu bahasa Nusantara. Hal ini dipahami bila hanya didasarkan atas temuan prasasti berbahasa Jawa Kuna yang paling tua yaitu, Prasasti Sukabumi (804 M). Meskipun demikian, tidak berarti di Pulau Jawa sebelum tahun tersebut belum terdapat budaya tulis, tetapi tahun tersebut hanya merupakan titik awal ditemukannya prasasti berbahasa Jawa Kuna.

Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.


Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Fase awal dari periode kuna (Old Indo Aryan) terwakili oleh bahasa yang digunakan dalam teks Weda. Weda yang tertua adalah Rig Weda yang merupakan kumpulan mantra-mantra religius. Teks ini diperkirakan berasal dari milenium kedua sebelum masehi. Teks-teks Weda lainnya yang juga berasal dari fase ini antara lain Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda. Tradisi Weda pada tahap selanjutnya menghasilkan karya sastra berbentuk prosa seperti Brahmana dan Upanishad. 
Bahasa yang dipakai di dalam teks-teks Weda merupakan bahasa kesastraan yang dipakai oleh para pendeta. Bahasa ini dikenal sebagai vaidiki bhasa. Selain itu di luar kesastraan Weda dikenal Laukiki bhasa yakni bahasa yang dipakai rakyat kebanyakan. Bahasa masyarakat kebanyakan ini kemudian diperbaiki dan ditata menurut aturan tata bahasa sehingga bebas dari kata-kata keliru yang biasa muncul.
Sehingga juga disebuat sebagai samskerta yakni sesuatu yang sudah diperbaiki atau dibersihkan. Penamaan dengan istilah bahasa Sanskerta merupakan penamaan yang tidak didasarkan asal bangsa pemakainya atau letak geografisnya.

Ahli tatabahasa yang terkenal dalam upaya pemurnian kembali bahasa dengan aturan tata bahasa adalah Panini (+ 400 SM). Melalui karyanya yang berjudul Astadhyayi, Bahasa Sanskerta menjadi dibakukan dan berkembang sejalan dengan peraturan tatabahasa yang telah ia buat. Dengan adanya aturan tatabahasa yang dibuat Panini tersebut, akibatnya muncul istilah prakrita bahasa umum, sederhana”. Bahasa Prakrit merupakan dialek umum yang berkembang secara alami. Karya Panini ini selanjutnya disempunakan olek Katyayana (+ 300 SM) dan Patanjali (+ 200 SM). 

Karya Panini ini dapat dianggap sebagai usaha yang menstabilkan tatabahasa Sanskerta dari karya-karya ahli tatabahasa sebelumnya seperti Yaska dalam Nirukta dari abad V SM. Panini dalam upaya standarisasi Bahasa Sanskerta diyakini menggunakan lingua franca dari daerah barat laut yang digunakan kaum agamawan dan kemudian dipakai pula dalam bahasa pemerintahan. Bahasa Sanskerta mulai dipakai sebagai bahasa ketatetapan resmi yakni pada masa dinasti Śaka dari daerah Ujjayinī ( 150 M ).

Pengaruh India diindikasikan mulai menyebar di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia antara abad II hingga III Masehi. Penyebaran ini diperkirakan melalui perdagangan laut. Kurun waktu tersebut bersamaan dengan dikenalnya teknologi transportasi laut, akibatnya pengaruh India mulai menyebar di wilayah persinggahannya yang kemudian menjadi dasar pokok dalam pendirian kerajaan-kerajaan di berbagai wilayah Asia Tenggara. Pengaruh India yang berupa ajaran agama Hindu-Budha masuk ke wilayah Indonesia bagian barat diperkirakan dibawa oleh guru-guru agama atau penduduk asli yang kembali ke negeri aslanya setelah lama bermukim di India. Para guru agama dan kaum terpelajar tersebut diperkirakan sebagai orang-orang yang mengenalkan Bahasa Sanskerta ke dalam rumpun Bahasa Austronesia yang termasuk di dalamnya Bahasa Jawa Kuna.

Rumpun Bahasa Austronesia yang juga disebut sebagai Melayu Polinesia mencakup bahasa-bahasa di wilayah Indonesia, Melanesia dan Polinesia. Penutur bahasa-bahasa Austronesia tersebar luas mulai dari sebelah barat yaitu Pulau Madagaskar hingga ke sebelah timur yaitu Pulau Paskah, serta di sebalah utara yaitu Pulau Formosa hingga ke selatan mencapai New Zealand. Hanya terdapat dua perkecualian kecil yaitu orang asli di Malaysia pedalaman yang menuturkan bahasa-bahasa rumpun Austroasia dan beberapa suku di Indonesia bagian timur yang menuturkan bahasa-bahasa Papua.

Rumpun Bahasa Austronesia mencakup bahasa-bahasa yang masih digunakan maupun bahasa yang telah punah. Bahasa-bahasa yang telah punah tersebut biasanya meninggalkan bukti tertulis yang menunjukkan tingginya peradaban di masanya. Bahasa-bahasa tersebut antara lain Bahasa Cham dan Bahasa Jawa Kuna yang keduanya termasuk dalam subkelompok Bahasa Melayu Polinesia Barat. Bahasa-bahasa yang digunakan pada kebudayaan kuna tersebut, di dalam studi perkembangan bahasa hanya disebut sebagai old language bukan sebagai bahasa awal ( proto language ).

Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu bentuk perkembangan dari Bahasa Proto Malayo Javanic yang merupakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa di Jawa pada masanya. Keberadaan Bahasa Jawa Kuna, di kawasan Pulau Jawa pada khususnya serta di kawasan Asia Tenggara pada umumnya, pada abad VI Masehi keberadaannya pernah dideskripsikan oleh sumber Cina yakni dengan penyebutan Kun Lun. 
Istilah Kun Lun digunakan untuk menyebut bahasa yang dipakai penduduk di daerah Sumatra, Jawa dan juga Campa. Hal ini dapat disebabkan karena bahasa-bahasa di berbagai daerah tersebut terdengar sebagai bahasa yang sama oleh para musafir Cina, selain itu bahasa-bahasa tersebut secara linguistis memang serumpun yang di dalamnya banyak dijumpai istilah-istilah dari Bahasa Sanskerta.

Berbeda dengan kemunculan dan perkembangan Bahasa Sanskerta yang dapat ditelusuri kembali dari masa yang paling tua melalui teks-teks Weda, Bahasa Jawa Kuna dalam kemunculannya dapat dikatakan muncul dengan tiba-tiba yakni dari suatu masa tanpa tinggalan tertulis tiba-tiba muncul tinggalan tertulis yang telah memiliki ciri-ciri perkembangan lebih lanjut sebagai satu bahasa Nusantara. Hal ini dipahami bila hanya didasarkan atas temuan prasasti berbahasa Jawa Kuna yang paling tua yaitu, Prasasti Sukabumi (804 M). Meskipun demikian, tidak berarti di Pulau Jawa sebelum tahun tersebut belum terdapat budaya tulis, tetapi tahun tersebut hanya merupakan titik awal ditemukannya prasasti berbahasa Jawa Kuna.

Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.


Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Bahasa yang dipakai di dalam teks-teks Weda merupakan bahasa kesastraan yang dipakai oleh para pendeta. Bahasa ini dikenal sebagai vaidiki bhasa. Selain itu di luar kesastraan Weda dikenal Laukiki bhasa yakni bahasa yang dipakai rakyat kebanyakan. Bahasa masyarakat kebanyakan ini kemudian diperbaiki dan ditata menurut aturan tata bahasa sehingga bebas dari kata-kata keliru yang biasa muncul.
Sehingga juga disebuat sebagai samskerta yakni sesuatu yang sudah diperbaiki atau dibersihkan. Penamaan dengan istilah bahasa Sanskerta merupakan penamaan yang tidak didasarkan asal bangsa pemakainya atau letak geografisnya.
Ahli tatabahasa yang terkenal dalam upaya pemurnian kembali bahasa dengan aturan tata bahasa adalah Panini (+ 400 SM). Melalui karyanya yang berjudul Astadhyayi, Bahasa Sanskerta menjadi dibakukan dan berkembang sejalan dengan peraturan tatabahasa yang telah ia buat. Dengan adanya aturan tatabahasa yang dibuat Panini tersebut, akibatnya muncul istilah prakrita bahasa umum, sederhana”. Bahasa Prakrit merupakan dialek umum yang berkembang secara alami. Karya Panini ini selanjutnya disempunakan olek Katyayana (+ 300 SM) dan Patanjali (+ 200 SM). 

Karya Panini ini dapat dianggap sebagai usaha yang menstabilkan tatabahasa Sanskerta dari karya-karya ahli tatabahasa sebelumnya seperti Yaska dalam Nirukta dari abad V SM. Panini dalam upaya standarisasi Bahasa Sanskerta diyakini menggunakan lingua franca dari daerah barat laut yang digunakan kaum agamawan dan kemudian dipakai pula dalam bahasa pemerintahan. Bahasa Sanskerta mulai dipakai sebagai bahasa ketatetapan resmi yakni pada masa dinasti Śaka dari daerah Ujjayinī ( 150 M ).

Pengaruh India diindikasikan mulai menyebar di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia antara abad II hingga III Masehi. Penyebaran ini diperkirakan melalui perdagangan laut. Kurun waktu tersebut bersamaan dengan dikenalnya teknologi transportasi laut, akibatnya pengaruh India mulai menyebar di wilayah persinggahannya yang kemudian menjadi dasar pokok dalam pendirian kerajaan-kerajaan di berbagai wilayah Asia Tenggara. Pengaruh India yang berupa ajaran agama Hindu-Budha masuk ke wilayah Indonesia bagian barat diperkirakan dibawa oleh guru-guru agama atau penduduk asli yang kembali ke negeri aslanya setelah lama bermukim di India. Para guru agama dan kaum terpelajar tersebut diperkirakan sebagai orang-orang yang mengenalkan Bahasa Sanskerta ke dalam rumpun Bahasa Austronesia yang termasuk di dalamnya Bahasa Jawa Kuna.

Rumpun Bahasa Austronesia yang juga disebut sebagai Melayu Polinesia mencakup bahasa-bahasa di wilayah Indonesia, Melanesia dan Polinesia. Penutur bahasa-bahasa Austronesia tersebar luas mulai dari sebelah barat yaitu Pulau Madagaskar hingga ke sebelah timur yaitu Pulau Paskah, serta di sebalah utara yaitu Pulau Formosa hingga ke selatan mencapai New Zealand. Hanya terdapat dua perkecualian kecil yaitu orang asli di Malaysia pedalaman yang menuturkan bahasa-bahasa rumpun Austroasia dan beberapa suku di Indonesia bagian timur yang menuturkan bahasa-bahasa Papua.

Rumpun Bahasa Austronesia mencakup bahasa-bahasa yang masih digunakan maupun bahasa yang telah punah. Bahasa-bahasa yang telah punah tersebut biasanya meninggalkan bukti tertulis yang menunjukkan tingginya peradaban di masanya. Bahasa-bahasa tersebut antara lain Bahasa Cham dan Bahasa Jawa Kuna yang keduanya termasuk dalam subkelompok Bahasa Melayu Polinesia Barat. Bahasa-bahasa yang digunakan pada kebudayaan kuna tersebut, di dalam studi perkembangan bahasa hanya disebut sebagai old language bukan sebagai bahasa awal ( proto language ).

Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu bentuk perkembangan dari Bahasa Proto Malayo Javanic yang merupakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa di Jawa pada masanya. Keberadaan Bahasa Jawa Kuna, di kawasan Pulau Jawa pada khususnya serta di kawasan Asia Tenggara pada umumnya, pada abad VI Masehi keberadaannya pernah dideskripsikan oleh sumber Cina yakni dengan penyebutan Kun Lun. 
Istilah Kun Lun digunakan untuk menyebut bahasa yang dipakai penduduk di daerah Sumatra, Jawa dan juga Campa. Hal ini dapat disebabkan karena bahasa-bahasa di berbagai daerah tersebut terdengar sebagai bahasa yang sama oleh para musafir Cina, selain itu bahasa-bahasa tersebut secara linguistis memang serumpun yang di dalamnya banyak dijumpai istilah-istilah dari Bahasa Sanskerta.

Berbeda dengan kemunculan dan perkembangan Bahasa Sanskerta yang dapat ditelusuri kembali dari masa yang paling tua melalui teks-teks Weda, Bahasa Jawa Kuna dalam kemunculannya dapat dikatakan muncul dengan tiba-tiba yakni dari suatu masa tanpa tinggalan tertulis tiba-tiba muncul tinggalan tertulis yang telah memiliki ciri-ciri perkembangan lebih lanjut sebagai satu bahasa Nusantara. Hal ini dipahami bila hanya didasarkan atas temuan prasasti berbahasa Jawa Kuna yang paling tua yaitu, Prasasti Sukabumi (804 M). Meskipun demikian, tidak berarti di Pulau Jawa sebelum tahun tersebut belum terdapat budaya tulis, tetapi tahun tersebut hanya merupakan titik awal ditemukannya prasasti berbahasa Jawa Kuna.

Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.


Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Ahli tatabahasa yang terkenal dalam upaya pemurnian kembali bahasa dengan aturan tata bahasa adalah Panini (+ 400 SM). Melalui karyanya yang berjudul Astadhyayi, Bahasa Sanskerta menjadi dibakukan dan berkembang sejalan dengan peraturan tatabahasa yang telah ia buat. Dengan adanya aturan tatabahasa yang dibuat Panini tersebut, akibatnya muncul istilah prakrita bahasa umum, sederhana”. Bahasa Prakrit merupakan dialek umum yang berkembang secara alami. Karya Panini ini selanjutnya disempunakan olek Katyayana (+ 300 SM) dan Patanjali (+ 200 SM). 
Karya Panini ini dapat dianggap sebagai usaha yang menstabilkan tatabahasa Sanskerta dari karya-karya ahli tatabahasa sebelumnya seperti Yaska dalam Nirukta dari abad V SM. Panini dalam upaya standarisasi Bahasa Sanskerta diyakini menggunakan lingua franca dari daerah barat laut yang digunakan kaum agamawan dan kemudian dipakai pula dalam bahasa pemerintahan. Bahasa Sanskerta mulai dipakai sebagai bahasa ketatetapan resmi yakni pada masa dinasti Śaka dari daerah Ujjayinī ( 150 M ).

Pengaruh India diindikasikan mulai menyebar di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia antara abad II hingga III Masehi. Penyebaran ini diperkirakan melalui perdagangan laut. Kurun waktu tersebut bersamaan dengan dikenalnya teknologi transportasi laut, akibatnya pengaruh India mulai menyebar di wilayah persinggahannya yang kemudian menjadi dasar pokok dalam pendirian kerajaan-kerajaan di berbagai wilayah Asia Tenggara. Pengaruh India yang berupa ajaran agama Hindu-Budha masuk ke wilayah Indonesia bagian barat diperkirakan dibawa oleh guru-guru agama atau penduduk asli yang kembali ke negeri aslanya setelah lama bermukim di India. Para guru agama dan kaum terpelajar tersebut diperkirakan sebagai orang-orang yang mengenalkan Bahasa Sanskerta ke dalam rumpun Bahasa Austronesia yang termasuk di dalamnya Bahasa Jawa Kuna.

Rumpun Bahasa Austronesia yang juga disebut sebagai Melayu Polinesia mencakup bahasa-bahasa di wilayah Indonesia, Melanesia dan Polinesia. Penutur bahasa-bahasa Austronesia tersebar luas mulai dari sebelah barat yaitu Pulau Madagaskar hingga ke sebelah timur yaitu Pulau Paskah, serta di sebalah utara yaitu Pulau Formosa hingga ke selatan mencapai New Zealand. Hanya terdapat dua perkecualian kecil yaitu orang asli di Malaysia pedalaman yang menuturkan bahasa-bahasa rumpun Austroasia dan beberapa suku di Indonesia bagian timur yang menuturkan bahasa-bahasa Papua.

Rumpun Bahasa Austronesia mencakup bahasa-bahasa yang masih digunakan maupun bahasa yang telah punah. Bahasa-bahasa yang telah punah tersebut biasanya meninggalkan bukti tertulis yang menunjukkan tingginya peradaban di masanya. Bahasa-bahasa tersebut antara lain Bahasa Cham dan Bahasa Jawa Kuna yang keduanya termasuk dalam subkelompok Bahasa Melayu Polinesia Barat. Bahasa-bahasa yang digunakan pada kebudayaan kuna tersebut, di dalam studi perkembangan bahasa hanya disebut sebagai old language bukan sebagai bahasa awal ( proto language ).

Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu bentuk perkembangan dari Bahasa Proto Malayo Javanic yang merupakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa di Jawa pada masanya. Keberadaan Bahasa Jawa Kuna, di kawasan Pulau Jawa pada khususnya serta di kawasan Asia Tenggara pada umumnya, pada abad VI Masehi keberadaannya pernah dideskripsikan oleh sumber Cina yakni dengan penyebutan Kun Lun. 
Istilah Kun Lun digunakan untuk menyebut bahasa yang dipakai penduduk di daerah Sumatra, Jawa dan juga Campa. Hal ini dapat disebabkan karena bahasa-bahasa di berbagai daerah tersebut terdengar sebagai bahasa yang sama oleh para musafir Cina, selain itu bahasa-bahasa tersebut secara linguistis memang serumpun yang di dalamnya banyak dijumpai istilah-istilah dari Bahasa Sanskerta.



Berbeda dengan kemunculan dan perkembangan Bahasa Sanskerta yang dapat ditelusuri kembali dari masa yang paling tua melalui teks-teks Weda, Bahasa Jawa Kuna dalam kemunculannya dapat dikatakan muncul dengan tiba-tiba yakni dari suatu masa tanpa tinggalan tertulis tiba-tiba muncul tinggalan tertulis yang telah memiliki ciri-ciri perkembangan lebih lanjut sebagai satu bahasa Nusantara. Hal ini dipahami bila hanya didasarkan atas temuan prasasti berbahasa Jawa Kuna yang paling tua yaitu, Prasasti Sukabumi (804 M). Meskipun demikian, tidak berarti di Pulau Jawa sebelum tahun tersebut belum terdapat budaya tulis, tetapi tahun tersebut hanya merupakan titik awal ditemukannya prasasti berbahasa Jawa Kuna.

Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.


AKSARA BRAHMA (BRAHIM / ABRHAM)


 

HURUF PALLAWA (Palava)




 

 

Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Karya Panini ini dapat dianggap sebagai usaha yang menstabilkan tatabahasa Sanskerta dari karya-karya ahli tatabahasa sebelumnya seperti Yaska dalam Nirukta dari abad V SM. Panini dalam upaya standarisasi Bahasa Sanskerta diyakini menggunakan lingua franca dari daerah barat laut yang digunakan kaum agamawan dan kemudian dipakai pula dalam bahasa pemerintahan. Bahasa Sanskerta mulai dipakai sebagai bahasa ketatetapan resmi yakni pada masa dinasti Śaka dari daerah Ujjayinī ( 150 M ).
Pengaruh India diindikasikan mulai menyebar di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia antara abad II hingga III Masehi. Penyebaran ini diperkirakan melalui perdagangan laut. Kurun waktu tersebut bersamaan dengan dikenalnya teknologi transportasi laut, akibatnya pengaruh India mulai menyebar di wilayah persinggahannya yang kemudian menjadi dasar pokok dalam pendirian kerajaan-kerajaan di berbagai wilayah Asia Tenggara. Pengaruh India yang berupa ajaran agama Hindu-Budha masuk ke wilayah Indonesia bagian barat diperkirakan dibawa oleh guru-guru agama atau penduduk asli yang kembali ke negeri aslanya setelah lama bermukim di India. Para guru agama dan kaum terpelajar tersebut diperkirakan sebagai orang-orang yang mengenalkan Bahasa Sanskerta ke dalam rumpun Bahasa Austronesia yang termasuk di dalamnya Bahasa Jawa Kuna.

Rumpun Bahasa Austronesia yang juga disebut sebagai Melayu Polinesia mencakup bahasa-bahasa di wilayah Indonesia, Melanesia dan Polinesia. Penutur bahasa-bahasa Austronesia tersebar luas mulai dari sebelah barat yaitu Pulau Madagaskar hingga ke sebelah timur yaitu Pulau Paskah, serta di sebalah utara yaitu Pulau Formosa hingga ke selatan mencapai New Zealand. Hanya terdapat dua perkecualian kecil yaitu orang asli di Malaysia pedalaman yang menuturkan bahasa-bahasa rumpun Austroasia dan beberapa suku di Indonesia bagian timur yang menuturkan bahasa-bahasa Papua.

Rumpun Bahasa Austronesia mencakup bahasa-bahasa yang masih digunakan maupun bahasa yang telah punah. Bahasa-bahasa yang telah punah tersebut biasanya meninggalkan bukti tertulis yang menunjukkan tingginya peradaban di masanya. Bahasa-bahasa tersebut antara lain Bahasa Cham dan Bahasa Jawa Kuna yang keduanya termasuk dalam subkelompok Bahasa Melayu Polinesia Barat. Bahasa-bahasa yang digunakan pada kebudayaan kuna tersebut, di dalam studi perkembangan bahasa hanya disebut sebagai old language bukan sebagai bahasa awal ( proto language ).

Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu bentuk perkembangan dari Bahasa Proto Malayo Javanic yang merupakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa di Jawa pada masanya. Keberadaan Bahasa Jawa Kuna, di kawasan Pulau Jawa pada khususnya serta di kawasan Asia Tenggara pada umumnya, pada abad VI Masehi keberadaannya pernah dideskripsikan oleh sumber Cina yakni dengan penyebutan Kun Lun. 
Istilah Kun Lun digunakan untuk menyebut bahasa yang dipakai penduduk di daerah Sumatra, Jawa dan juga Campa. Hal ini dapat disebabkan karena bahasa-bahasa di berbagai daerah tersebut terdengar sebagai bahasa yang sama oleh para musafir Cina, selain itu bahasa-bahasa tersebut secara linguistis memang serumpun yang di dalamnya banyak dijumpai istilah-istilah dari Bahasa Sanskerta.

Berbeda dengan kemunculan dan perkembangan Bahasa Sanskerta yang dapat ditelusuri kembali dari masa yang paling tua melalui teks-teks Weda, Bahasa Jawa Kuna dalam kemunculannya dapat dikatakan muncul dengan tiba-tiba yakni dari suatu masa tanpa tinggalan tertulis tiba-tiba muncul tinggalan tertulis yang telah memiliki ciri-ciri perkembangan lebih lanjut sebagai satu bahasa Nusantara. Hal ini dipahami bila hanya didasarkan atas temuan prasasti berbahasa Jawa Kuna yang paling tua yaitu, Prasasti Sukabumi (804 M). Meskipun demikian, tidak berarti di Pulau Jawa sebelum tahun tersebut belum terdapat budaya tulis, tetapi tahun tersebut hanya merupakan titik awal ditemukannya prasasti berbahasa Jawa Kuna.

Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.


Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Pengaruh India diindikasikan mulai menyebar di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia antara abad II hingga III Masehi. Penyebaran ini diperkirakan melalui perdagangan laut. Kurun waktu tersebut bersamaan dengan dikenalnya teknologi transportasi laut, akibatnya pengaruh India mulai menyebar di wilayah persinggahannya yang kemudian menjadi dasar pokok dalam pendirian kerajaan-kerajaan di berbagai wilayah Asia Tenggara. Pengaruh India yang berupa ajaran agama Hindu-Budha masuk ke wilayah Indonesia bagian barat diperkirakan dibawa oleh guru-guru agama atau penduduk asli yang kembali ke negeri aslanya setelah lama bermukim di India. Para guru agama dan kaum terpelajar tersebut diperkirakan sebagai orang-orang yang mengenalkan Bahasa Sanskerta ke dalam rumpun Bahasa Austronesia yang termasuk di dalamnya Bahasa Jawa Kuna.
Rumpun Bahasa Austronesia yang juga disebut sebagai Melayu Polinesia mencakup bahasa-bahasa di wilayah Indonesia, Melanesia dan Polinesia. Penutur bahasa-bahasa Austronesia tersebar luas mulai dari sebelah barat yaitu Pulau Madagaskar hingga ke sebelah timur yaitu Pulau Paskah, serta di sebalah utara yaitu Pulau Formosa hingga ke selatan mencapai New Zealand. Hanya terdapat dua perkecualian kecil yaitu orang asli di Malaysia pedalaman yang menuturkan bahasa-bahasa rumpun Austroasia dan beberapa suku di Indonesia bagian timur yang menuturkan bahasa-bahasa Papua.

Rumpun Bahasa Austronesia mencakup bahasa-bahasa yang masih digunakan maupun bahasa yang telah punah. Bahasa-bahasa yang telah punah tersebut biasanya meninggalkan bukti tertulis yang menunjukkan tingginya peradaban di masanya. Bahasa-bahasa tersebut antara lain Bahasa Cham dan Bahasa Jawa Kuna yang keduanya termasuk dalam subkelompok Bahasa Melayu Polinesia Barat. Bahasa-bahasa yang digunakan pada kebudayaan kuna tersebut, di dalam studi perkembangan bahasa hanya disebut sebagai old language bukan sebagai bahasa awal ( proto language ).

Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu bentuk perkembangan dari Bahasa Proto Malayo Javanic yang merupakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa di Jawa pada masanya. Keberadaan Bahasa Jawa Kuna, di kawasan Pulau Jawa pada khususnya serta di kawasan Asia Tenggara pada umumnya, pada abad VI Masehi keberadaannya pernah dideskripsikan oleh sumber Cina yakni dengan penyebutan Kun Lun. 
Istilah Kun Lun digunakan untuk menyebut bahasa yang dipakai penduduk di daerah Sumatra, Jawa dan juga Campa. Hal ini dapat disebabkan karena bahasa-bahasa di berbagai daerah tersebut terdengar sebagai bahasa yang sama oleh para musafir Cina, selain itu bahasa-bahasa tersebut secara linguistis memang serumpun yang di dalamnya banyak dijumpai istilah-istilah dari Bahasa Sanskerta.

Berbeda dengan kemunculan dan perkembangan Bahasa Sanskerta yang dapat ditelusuri kembali dari masa yang paling tua melalui teks-teks Weda, Bahasa Jawa Kuna dalam kemunculannya dapat dikatakan muncul dengan tiba-tiba yakni dari suatu masa tanpa tinggalan tertulis tiba-tiba muncul tinggalan tertulis yang telah memiliki ciri-ciri perkembangan lebih lanjut sebagai satu bahasa Nusantara. Hal ini dipahami bila hanya didasarkan atas temuan prasasti berbahasa Jawa Kuna yang paling tua yaitu, Prasasti Sukabumi (804 M). Meskipun demikian, tidak berarti di Pulau Jawa sebelum tahun tersebut belum terdapat budaya tulis, tetapi tahun tersebut hanya merupakan titik awal ditemukannya prasasti berbahasa Jawa Kuna.

Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.


Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Rumpun Bahasa Austronesia yang juga disebut sebagai Melayu Polinesia mencakup bahasa-bahasa di wilayah Indonesia, Melanesia dan Polinesia. Penutur bahasa-bahasa Austronesia tersebar luas mulai dari sebelah barat yaitu Pulau Madagaskar hingga ke sebelah timur yaitu Pulau Paskah, serta di sebalah utara yaitu Pulau Formosa hingga ke selatan mencapai New Zealand. Hanya terdapat dua perkecualian kecil yaitu orang asli di Malaysia pedalaman yang menuturkan bahasa-bahasa rumpun Austroasia dan beberapa suku di Indonesia bagian timur yang menuturkan bahasa-bahasa Papua.
Rumpun Bahasa Austronesia mencakup bahasa-bahasa yang masih digunakan maupun bahasa yang telah punah. Bahasa-bahasa yang telah punah tersebut biasanya meninggalkan bukti tertulis yang menunjukkan tingginya peradaban di masanya. Bahasa-bahasa tersebut antara lain Bahasa Cham dan Bahasa Jawa Kuna yang keduanya termasuk dalam subkelompok Bahasa Melayu Polinesia Barat. Bahasa-bahasa yang digunakan pada kebudayaan kuna tersebut, di dalam studi perkembangan bahasa hanya disebut sebagai old language bukan sebagai bahasa awal ( proto language ).

Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu bentuk perkembangan dari Bahasa Proto Malayo Javanic yang merupakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa di Jawa pada masanya. Keberadaan Bahasa Jawa Kuna, di kawasan Pulau Jawa pada khususnya serta di kawasan Asia Tenggara pada umumnya, pada abad VI Masehi keberadaannya pernah dideskripsikan oleh sumber Cina yakni dengan penyebutan Kun Lun. 
Istilah Kun Lun digunakan untuk menyebut bahasa yang dipakai penduduk di daerah Sumatra, Jawa dan juga Campa. Hal ini dapat disebabkan karena bahasa-bahasa di berbagai daerah tersebut terdengar sebagai bahasa yang sama oleh para musafir Cina, selain itu bahasa-bahasa tersebut secara linguistis memang serumpun yang di dalamnya banyak dijumpai istilah-istilah dari Bahasa Sanskerta.

Berbeda dengan kemunculan dan perkembangan Bahasa Sanskerta yang dapat ditelusuri kembali dari masa yang paling tua melalui teks-teks Weda, Bahasa Jawa Kuna dalam kemunculannya dapat dikatakan muncul dengan tiba-tiba yakni dari suatu masa tanpa tinggalan tertulis tiba-tiba muncul tinggalan tertulis yang telah memiliki ciri-ciri perkembangan lebih lanjut sebagai satu bahasa Nusantara. Hal ini dipahami bila hanya didasarkan atas temuan prasasti berbahasa Jawa Kuna yang paling tua yaitu, Prasasti Sukabumi (804 M). Meskipun demikian, tidak berarti di Pulau Jawa sebelum tahun tersebut belum terdapat budaya tulis, tetapi tahun tersebut hanya merupakan titik awal ditemukannya prasasti berbahasa Jawa Kuna.

Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.


Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Rumpun Bahasa Austronesia mencakup bahasa-bahasa yang masih digunakan maupun bahasa yang telah punah. Bahasa-bahasa yang telah punah tersebut biasanya meninggalkan bukti tertulis yang menunjukkan tingginya peradaban di masanya. Bahasa-bahasa tersebut antara lain Bahasa Cham dan Bahasa Jawa Kuna yang keduanya termasuk dalam subkelompok Bahasa Melayu Polinesia Barat. Bahasa-bahasa yang digunakan pada kebudayaan kuna tersebut, di dalam studi perkembangan bahasa hanya disebut sebagai old language bukan sebagai bahasa awal ( proto language ).
Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu bentuk perkembangan dari Bahasa Proto Malayo Javanic yang merupakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa di Jawa pada masanya. Keberadaan Bahasa Jawa Kuna, di kawasan Pulau Jawa pada khususnya serta di kawasan Asia Tenggara pada umumnya, pada abad VI Masehi keberadaannya pernah dideskripsikan oleh sumber Cina yakni dengan penyebutan Kun Lun. 
Istilah Kun Lun digunakan untuk menyebut bahasa yang dipakai penduduk di daerah Sumatra, Jawa dan juga Campa. Hal ini dapat disebabkan karena bahasa-bahasa di berbagai daerah tersebut terdengar sebagai bahasa yang sama oleh para musafir Cina, selain itu bahasa-bahasa tersebut secara linguistis memang serumpun yang di dalamnya banyak dijumpai istilah-istilah dari Bahasa Sanskerta.

Berbeda dengan kemunculan dan perkembangan Bahasa Sanskerta yang dapat ditelusuri kembali dari masa yang paling tua melalui teks-teks Weda, Bahasa Jawa Kuna dalam kemunculannya dapat dikatakan muncul dengan tiba-tiba yakni dari suatu masa tanpa tinggalan tertulis tiba-tiba muncul tinggalan tertulis yang telah memiliki ciri-ciri perkembangan lebih lanjut sebagai satu bahasa Nusantara. Hal ini dipahami bila hanya didasarkan atas temuan prasasti berbahasa Jawa Kuna yang paling tua yaitu, Prasasti Sukabumi (804 M). Meskipun demikian, tidak berarti di Pulau Jawa sebelum tahun tersebut belum terdapat budaya tulis, tetapi tahun tersebut hanya merupakan titik awal ditemukannya prasasti berbahasa Jawa Kuna.

Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.


Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu bentuk perkembangan dari Bahasa Proto Malayo Javanic yang merupakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa di Jawa pada masanya. Keberadaan Bahasa Jawa Kuna, di kawasan Pulau Jawa pada khususnya serta di kawasan Asia Tenggara pada umumnya, pada abad VI Masehi keberadaannya pernah dideskripsikan oleh sumber Cina yakni dengan penyebutan Kun Lun. 
Istilah Kun Lun digunakan untuk menyebut bahasa yang dipakai penduduk di daerah Sumatra, Jawa dan juga Campa. Hal ini dapat disebabkan karena bahasa-bahasa di berbagai daerah tersebut terdengar sebagai bahasa yang sama oleh para musafir Cina, selain itu bahasa-bahasa tersebut secara linguistis memang serumpun yang di dalamnya banyak dijumpai istilah-istilah dari Bahasa Sanskerta.
Berbeda dengan kemunculan dan perkembangan Bahasa Sanskerta yang dapat ditelusuri kembali dari masa yang paling tua melalui teks-teks Weda, Bahasa Jawa Kuna dalam kemunculannya dapat dikatakan muncul dengan tiba-tiba yakni dari suatu masa tanpa tinggalan tertulis tiba-tiba muncul tinggalan tertulis yang telah memiliki ciri-ciri perkembangan lebih lanjut sebagai satu bahasa Nusantara. Hal ini dipahami bila hanya didasarkan atas temuan prasasti berbahasa Jawa Kuna yang paling tua yaitu, Prasasti Sukabumi (804 M). Meskipun demikian, tidak berarti di Pulau Jawa sebelum tahun tersebut belum terdapat budaya tulis, tetapi tahun tersebut hanya merupakan titik awal ditemukannya prasasti berbahasa Jawa Kuna.

Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.


Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Berbeda dengan kemunculan dan perkembangan Bahasa Sanskerta yang dapat ditelusuri kembali dari masa yang paling tua melalui teks-teks Weda, Bahasa Jawa Kuna dalam kemunculannya dapat dikatakan muncul dengan tiba-tiba yakni dari suatu masa tanpa tinggalan tertulis tiba-tiba muncul tinggalan tertulis yang telah memiliki ciri-ciri perkembangan lebih lanjut sebagai satu bahasa Nusantara. Hal ini dipahami bila hanya didasarkan atas temuan prasasti berbahasa Jawa Kuna yang paling tua yaitu, Prasasti Sukabumi (804 M). Meskipun demikian, tidak berarti di Pulau Jawa sebelum tahun tersebut belum terdapat budaya tulis, tetapi tahun tersebut hanya merupakan titik awal ditemukannya prasasti berbahasa Jawa Kuna.
Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.


Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.

Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Sumber

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

Sumber
- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.

- Keraf, Gorys, 1995, Lingusitik Bandingan Historis, Jakarta : Penerbit PT. Gramedia. 
- Bloomfield, Leonard, Language, diindonesiakan oleh I.Sutikno, 1995, Bahasa,
Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
- Embree, Ainslie T. (ed. ), 1988, Encyclopaedia of Asian History, volume 2, Charles
Scribner’s Sons. 
- Basham, A.L, 1988, The Wonder That Was India, London: Sidgwick and Jackson.
- Sharma, Mukunda Madhava, 1985, Unsur-Unsur Bahasa Sanskerta Dalam Bahasa
Indonesia, Denpasar : Wyāsa Sanggraha.
- Damais, Louis Charles, 1995 Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan Louis Charles Damais, Jakarta : EFEO.
- Bellwood, Peter, 2000, Prehistory of The Indo Malaysian Archipelago
- (Nothofer, Bernd, 1975, The Reconstruction of Proto Malayo Javanic, s’Gravenhage : Martinus Nijhoff.
- Zoetmulder, P.J, 1994, Kalangwan A Survey of Old Javanese Literature, diindonesiakan
oleh Dick Hartoko, Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Jakarta : Penerbit
Djambatan.
sisa bahasa kawi = bahasa banyumasan, tengger, cirebon dll


(banyumasan, cirebon, tegal tengger) juga bahasa bali dan banyuwangi termasuk sisa2 kawi. Justru bahasa ngapak itulah bahasa Jawa "klasik"
bahasa kawi tidak pakai akhiran "o" ,bahasa jawa "o", yang pakai o itu bahasa jawa logat mataraman.

bukti bahasa banyumasan/cirebon/banten adalah bahasa kawi:

silakan baca kitab2 kawi seperti kitab nawa ruci, lebih banyak persamaan bahasa jawa banyumasan/cirebon dgn kawi. contoh: perkataan inyong (aku) dalam bahasa jawa banyumasan, kalau dalam kawi itu Ingong, manjing, rika,dll. Jadi kalau baca "bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa" ya memang seperti itu pakai akhiran "a"

dengerin aja cara orang2 yang dianggap orang2 majapahit seperti tengger, ane pernah denger orang tengger ngomong, ane kira orang tegal, ternyata tengger. aneh kan padahal tengger jauh di jawa timur sana. Orang2 bali itu keturunan majapahit juga ga pakai akhiran "o" kan,

luas wilayah bahasa "a" lebih luas dari bahasa "o" orang2 jawa kuno zaman demak yang bermigrasi/bercampurbaur ke pesisir jawa barat ( cirebon dan banten) pada saat pengislaman pulau jawa, memakai bahasa akhiran "a". zaman itu kan zaman akhir2 majapahit.

bahasa kawi tidak pakai akhiran "o" ,bahasa jawa "o", yang pakai o itu bahasa jawa logat mataraman.
bukti bahasa banyumasan/cirebon/banten adalah bahasa kawi:

silakan baca kitab2 kawi seperti kitab nawa ruci, lebih banyak persamaan bahasa jawa banyumasan/cirebon dgn kawi. contoh: perkataan inyong (aku) dalam bahasa jawa banyumasan, kalau dalam kawi itu Ingong, manjing, rika,dll. Jadi kalau baca "bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa" ya memang seperti itu pakai akhiran "a"

dengerin aja cara orang2 yang dianggap orang2 majapahit seperti tengger, ane pernah denger orang tengger ngomong, ane kira orang tegal, ternyata tengger. aneh kan padahal tengger jauh di jawa timur sana. Orang2 bali itu keturunan majapahit juga ga pakai akhiran "o" kan,

luas wilayah bahasa "a" lebih luas dari bahasa "o" orang2 jawa kuno zaman demak yang bermigrasi/bercampurbaur ke pesisir jawa barat ( cirebon dan banten) pada saat pengislaman pulau jawa, memakai bahasa akhiran "a". zaman itu kan zaman akhir2 majapahit.

bukti bahasa banyumasan/cirebon/banten adalah bahasa kawi:
silakan baca kitab2 kawi seperti kitab nawa ruci, lebih banyak persamaan bahasa jawa banyumasan/cirebon dgn kawi. contoh: perkataan inyong (aku) dalam bahasa jawa banyumasan, kalau dalam kawi itu Ingong, manjing, rika,dll. Jadi kalau baca "bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa" ya memang seperti itu pakai akhiran "a"

dengerin aja cara orang2 yang dianggap orang2 majapahit seperti tengger, ane pernah denger orang tengger ngomong, ane kira orang tegal, ternyata tengger. aneh kan padahal tengger jauh di jawa timur sana. Orang2 bali itu keturunan majapahit juga ga pakai akhiran "o" kan,

luas wilayah bahasa "a" lebih luas dari bahasa "o" orang2 jawa kuno zaman demak yang bermigrasi/bercampurbaur ke pesisir jawa barat ( cirebon dan banten) pada saat pengislaman pulau jawa, memakai bahasa akhiran "a". zaman itu kan zaman akhir2 majapahit.

silakan baca kitab2 kawi seperti kitab nawa ruci, lebih banyak persamaan bahasa jawa banyumasan/cirebon dgn kawi. contoh: perkataan inyong (aku) dalam bahasa jawa banyumasan, kalau dalam kawi itu Ingong, manjing, rika,dll. Jadi kalau baca "bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa" ya memang seperti itu pakai akhiran "a"
dengerin aja cara orang2 yang dianggap orang2 majapahit seperti tengger, ane pernah denger orang tengger ngomong, ane kira orang tegal, ternyata tengger. aneh kan padahal tengger jauh di jawa timur sana. Orang2 bali itu keturunan majapahit juga ga pakai akhiran "o" kan,

luas wilayah bahasa "a" lebih luas dari bahasa "o" orang2 jawa kuno zaman demak yang bermigrasi/bercampurbaur ke pesisir jawa barat ( cirebon dan banten) pada saat pengislaman pulau jawa, memakai bahasa akhiran "a". zaman itu kan zaman akhir2 majapahit.

dengerin aja cara orang2 yang dianggap orang2 majapahit seperti tengger, ane pernah denger orang tengger ngomong, ane kira orang tegal, ternyata tengger. aneh kan padahal tengger jauh di jawa timur sana. Orang2 bali itu keturunan majapahit juga ga pakai akhiran "o" kan,
luas wilayah bahasa "a" lebih luas dari bahasa "o" orang2 jawa kuno zaman demak yang bermigrasi/bercampurbaur ke pesisir jawa barat ( cirebon dan banten) pada saat pengislaman pulau jawa, memakai bahasa akhiran "a". zaman itu kan zaman akhir2 majapahit.

luas wilayah bahasa "a" lebih luas dari bahasa "o" orang2 jawa kuno zaman demak yang bermigrasi/bercampurbaur ke pesisir jawa barat ( cirebon dan banten) pada saat pengislaman pulau jawa, memakai bahasa akhiran "a". zaman itu kan zaman akhir2 majapahit.
1. Nama saya Prasanna.
Mama Nama prasannah.

2. Siapa (maskulin) nama kamu ?
Kim bhavatah Nama?

3. Nama saya Ramesh
Mama Nama ramesah.

4. Siapa (feminin) nama kamu?
Kim bhavatyah Nama?

5. Nama saya Sarojaa.
Mama Nama Saroja.

6. Siapa Anda (maskulin)?
Bhavan kah?

7. Saya Ramesh?
Aham Ramesah.

8. Siapa kamu (feminin)?
Bhavati ka?

9. Saya Sarojaa.
Aham Saroja.

10. Siapa yang namanya Ramesh?
Nama Kasya ramesah?

http://www.esamskriti.com/essay-chapters/Speak%20Sanskrit%20in%2010%20days-1.aspx

1. Nama saya Prasanna.
Mama Nama prasannah.
2. Siapa (maskulin) nama kamu ?
Kim bhavatah Nama?

3. Nama saya Ramesh
Mama Nama ramesah.

4. Siapa (feminin) nama kamu?
Kim bhavatyah Nama?

5. Nama saya Sarojaa.
Mama Nama Saroja.

6. Siapa Anda (maskulin)?
Bhavan kah?

7. Saya Ramesh?
Aham Ramesah.

8. Siapa kamu (feminin)?
Bhavati ka?

9. Saya Sarojaa.
Aham Saroja.

10. Siapa yang namanya Ramesh?
Nama Kasya ramesah?

http://www.esamskriti.com/essay-chapters/Speak%20Sanskrit%20in%2010%20days-1.aspx

2. Siapa (maskulin) nama kamu ?
Kim bhavatah Nama?
3. Nama saya Ramesh
Mama Nama ramesah.

4. Siapa (feminin) nama kamu?
Kim bhavatyah Nama?

5. Nama saya Sarojaa.
Mama Nama Saroja.

6. Siapa Anda (maskulin)?
Bhavan kah?

7. Saya Ramesh?
Aham Ramesah.

8. Siapa kamu (feminin)?
Bhavati ka?

9. Saya Sarojaa.
Aham Saroja.

10. Siapa yang namanya Ramesh?
Nama Kasya ramesah?

http://www.esamskriti.com/essay-chapters/Speak%20Sanskrit%20in%2010%20days-1.aspx

3. Nama saya Ramesh
Mama Nama ramesah.
4. Siapa (feminin) nama kamu?
Kim bhavatyah Nama?

5. Nama saya Sarojaa.
Mama Nama Saroja.

6. Siapa Anda (maskulin)?
Bhavan kah?

7. Saya Ramesh?
Aham Ramesah.

8. Siapa kamu (feminin)?
Bhavati ka?

9. Saya Sarojaa.
Aham Saroja.

10. Siapa yang namanya Ramesh?
Nama Kasya ramesah?

http://www.esamskriti.com/essay-chapters/Speak%20Sanskrit%20in%2010%20days-1.aspx

4. Siapa (feminin) nama kamu?
Kim bhavatyah Nama?
5. Nama saya Sarojaa.
Mama Nama Saroja.

6. Siapa Anda (maskulin)?
Bhavan kah?

7. Saya Ramesh?
Aham Ramesah.

8. Siapa kamu (feminin)?
Bhavati ka?

9. Saya Sarojaa.
Aham Saroja.

10. Siapa yang namanya Ramesh?
Nama Kasya ramesah?

http://www.esamskriti.com/essay-chapters/Speak%20Sanskrit%20in%2010%20days-1.aspx

5. Nama saya Sarojaa.
Mama Nama Saroja.
6. Siapa Anda (maskulin)?
Bhavan kah?

7. Saya Ramesh?
Aham Ramesah.

8. Siapa kamu (feminin)?
Bhavati ka?

9. Saya Sarojaa.
Aham Saroja.

10. Siapa yang namanya Ramesh?
Nama Kasya ramesah?

http://www.esamskriti.com/essay-chapters/Speak%20Sanskrit%20in%2010%20days-1.aspx

6. Siapa Anda (maskulin)?

Bhavan kah?
7. Saya Ramesh?
Aham Ramesah.

8. Siapa kamu (feminin)?
Bhavati ka?

9. Saya Sarojaa.
Aham Saroja.

10. Siapa yang namanya Ramesh?
Nama Kasya ramesah?

http://www.esamskriti.com/essay-chapters/Speak%20Sanskrit%20in%2010%20days-1.aspx


7. Saya Ramesh?
Aham Ramesah.
8. Siapa kamu (feminin)?
Bhavati ka?

9. Saya Sarojaa.
Aham Saroja.

10. Siapa yang namanya Ramesh?
Nama Kasya ramesah?

http://www.esamskriti.com/essay-chapters/Speak%20Sanskrit%20in%2010%20days-1.aspx


8. Siapa kamu (feminin)?
Bhavati ka?


9. Saya Sarojaa.
Aham Saroja.

10. Siapa yang namanya Ramesh?
Nama Kasya ramesah?

http://www.esamskriti.com/essay-chapters/Speak%20Sanskrit%20in%2010%20days-1.aspx


9. Saya Sarojaa.
Aham Saroja.


10. Siapa yang namanya Ramesh?
Nama Kasya ramesah?

http://www.esamskriti.com/essay-chapters/Speak%20Sanskrit%20in%2010%20days-1.aspx


10. Siapa yang namanya Ramesh?
Nama Kasya ramesah?


http://www.esamskriti.com/essay-chapters/Speak%20Sanskrit%20in%2010%20days-1.aspx

http://www.esamskriti.com/essay-chapters/Speak%20Sanskrit%20in%2010%20days-1.aspx

Berarti aksara Kawi dengan aksara Hanacaraka jalur turunannya beda ya? 

 

Sumber : http://archive.kaskus.co.id/thread/6752087/

Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuna

Bahasa Sanskerta secara genealogis termasuk dalam rumpun Bahasa Indo Eropa.

 

http://archive.kaskus.co.id/thread/6752087/

Sisa bahasa Kawi(bahasa jawa kuno jaman majapahit) itu bahasa Jawa ngapak

http://archive.kaskus.co.id/thread/6752087/60

 

Gambar Area sebaran Dialek Bahasa Jawa, Jawa Barat (Sunda), Banten, Cirebon :


 

 

 

Thu, 3 Jul 2014 @01:20

Event Tahun 2016

Musik Rock Era '70

Luar Negeri

yang populer di

Indonesia

 

Deep Purple

 

klik foto bawah, untuk 

mendengar lagu Deep Purple

 

 

Led Zeppelin

klik foto bawah, untuk 

mendengar lagu Led Zeppelin

 

 

Info terkini :


web stats

 

 

 

Web Site ini dalam

tahap persiapan

 

 

 

Pengunjung :


 

 

Jam    : 14:13


Flag Counter

 

Tanggal Hari ini :

 

 

Jam Hari ini : (Ina wib)


Language Translator :
In Google Menu 

ALWAYS START FROM :
INDONESIA TO : English
Indonesia - English

and the other choice


Google Translation
RSS Feed

Copyright © 2017 NUSWANTORO · All Rights Reserved