LCLR Musik dan lagu berkualitas (klik foto, geser bawah)

image

LCLR Musik dan lagu yang bersifat tuntunan dan tontonan berkulitas, berpikir dan bukan kelas pasaran lokal (yang asal laris manis model kacangan dengan motif popularitas asal-asalan yang penting untung besar).

Setelah di awal 60 sampai 70 an, Indonesia sudah di kenyangkan dengan suguhan Musik dan lagu dari group band (Senior) papan atas Indonesia masa 60-70 an aliran (Pop) Populer seperti : Koes Bersaudara, Koes Plus, Favorites, Panbers, Mercys, D'Lloyd dan bahkan aliran rock ada : God Bless, Aka, Black Brothers dan lainnya, maka seperti telah terjadi kejenuhan kenapa kok modelnya itu-itu saja, untuk itu diperlukan Refreshing dengan mengadakan Lomba Cipta Lagu Remaja, dari namanya saja sudah tentu kebanyakan pengikutnya Lomba adalah kaum remaja (alias Yunior) alias bukan Senior.

Pendobrak sejarah musik Indonesia. Adalah acara Lomba LCLR ini, yang dimulai sejak tahun 1977 oleh sebuah Radio Anak Muda (mahasiswa) bernama Prambors, karena memang tempatnya di Sekitar Prambanan Jalan Borobudur Menteng (dekat Universitas Indonesia) juga dekat dengan Universitas Pancasila Fak Hukum. Maksud singkatan Prambors mungkin adalah "Prambanan Borobudur dan Sekitarnya".

Bermula dari Radio ini lahirlah tokoh tokoh remaja yang kreatif dan jenius dibidang penciptaan jenis musik dan penciptaan lagu, bahkan berawal dari acara guyonan mereka, terlahirlah juga sebuah grup (lawak) komedian Warkop, acara Sersan Prambors (serius tapi santai) bahkan Album dangdut barat kreatif OM PSP (Pancaran Sinar Petromax) dengan lagu My Bonnie (barat) di dangdutkan, juga PMR (Pengantar Minum Racun), mungkin di tahun 2000 an ini dikenal Grup musik plesetan seperti Teamlo.

Para musisi senior yang populer dan profesional waktu itu kebanyakan temanya menuruti selera Pasar. Akhirnya terjadi stagnasi terlalu menjamur, dengan tema : cinta buta, putus cinta karena miskin, kemiskinan, tidak berdaya, hampa, putus asa, pasrah, menyerah, nasib, cengeng, bunuh diri dan lainnya. Walau memang menggambarkan realita yang ada, tapi kan tidak semua rakyat seperti ini ? ada juga rakyat yang berkualitas, tangguh, mental pejuang, tidak putus asa, cerdas, kuat, kreatif, cinta lingkungan, cinta perdamaian, tahan banting, bermoral, mahasiswa dengan prestasi bagus yang berkarya, dan lainnya.

Sama sama putus asa, tapi gaya remaja dalam lirik dan lagunya yang ini menyikapi menyoroti gaya hidup anak gedongan (golongan the have), akibat kurang kasih sayang (kesibukan) orang tua, narkoba, alkohol (tapi yang berkelas bukan) dan bahkan free sex, pergaulan bebas. Jadi ya terkesan high level, walau sama sama putus asa. Tapi hanya sedikit tema yang seperti ini.

Tema lirik notasi Chord musik dan lagunya terlalu “sepele”, hingga banyak musisi mancanegara memandang rendah kualitas musisi kita saat itu, pikir mereka, apakah musisi Indonesia mampu membuat lirik dan musik dengan tema dan notasi musik yang berkualitas ?

 

Musik dan (lirik) lagu semacam ini ternyata sangat tidak mendidik dan malah mengajak masyarakat untuk tidak berpikir, dengan beat beat umum yang monoton, hingga pendengar Cuma bisa senang2 saja, Cuma tontonan, bukan tuntuan. Sekedar pelepas dahaga masyarakat agar sejenak terhibur karena beban hidup yang berat.

 

Maka para Pejuang musik Indonesia mengadakan Lomba karya cipta Remaja (bukan hanya lomba menyanyi saja) Musik dan Lagu berkualitas di Indonesia itu bernama LCLR (dimulai th 1977).

 

Bermula dari sebuah Station Radio AM 33 tahun yang lalu, berada di jalan Borobudur, menteng Jakarta Pusat, di sekitar Prambanan, (Prambors) mungkin akronim dari Prambanan Borobudur dan sekitarnya inilah akhirnya lahir kreasi LCLR lomba cipta lagu Remaja (maksudnya Anak Sekolahan yang idealismenya masih kuat) dengan seleksi lomba dan arahan para musisi, apesiasi seni musik dan lagu.  

Walau sudah ada Festival Lagu Pop Indonesia yang dirintis sejak tahun 1971, tapi ternyata tidak berkembang (tidak laris di pasaran / dijual).

Keenan Nasution dan Donny fatah (2 juri LCLR 1977)

Kritik Remy Silado : terjadi pendangkalan tema dalam musik pop kita. ”Hampir semua lagu liriknya dipenuhi dengan kata ‘mengapa”’ katanya di  majalah Prisma.

Musik pop menjadi tunggal nada dan membosankan. Tidak ada terobosan baru. kata Imran Amir dari Radio Prambors

 

Pembaruan kualitas musik sudah dilakukan Harry Roesli, Leo Kristi, Guruh Gipsy, tapi tidak memiliki daya jual terhadap pasar

 

”Saat itu musik pop kita tak ubahnya dagangan yang hampir tidak memikirkan kualitas,’ ungkap Sys NS, salah satu panitia LCLR Prambors.

pada Lomba Cipta Lagu Remaja 1977 mengahilkan Lagu "Kemelut" karya Junaedi Salat sebagai juara 1 dan Lilin-lilin Kecil karya James F Sundah sebagai : ‘Lagu Tersayang’.

Pada 10 pemenang LCLR 1977, ada tiga lagu yang diciptakan oleh Kelompok Vokal SMA III Jakarta (kawasan Setiabudi), yaitu : Akhir Sebuah Opera, Angin, dan Di Malam Kala Sang Sukma Datang.

Dari Siswa SMA III penulis lagu itu adalah Fariz RM, Adjie Soetama, dan Raidy Noor serta Iman RN , yang kelak menjadi Icon penggerak musik pop Indonesia.

Pada LCLR 1978 terpilih lagu Khayal karya Christ Kaihatu (alm) dan Tommy WS (alm) sebagai juara 1.

Lagu Kidung karya Christ Manusama, jadi : ‘Lagu Tersayang’.

Dalam LCLR ini menghasilkan sederet pencipta lagu hasilkan musisi pendobrak yaitu :

James F Sundah, Baskoro, Chris Manuel Manusama, Harry Sabar, Fariz RM, Raidy Noor, Adjie Soetama, Ikang Fawzy, dan Dian Pramana Poetra. Terus ada lagi nama Bagoes A Ariyanto, Sam Bobo, Christ Kaihatu, Tommy Marie, Ingrid Widjanarko, Denny Hatami, Edwin Saladin, Didi AGP, Iszur Muchtar, Yovie Widianto, Bram Moersas, Roedyanto, dan masih banyak lagi.

di era 1977-1978  Chrisye, Keenan Nasution, Eros Djarot, God Bless, Noor Bersaudara, Harry Roesli, Giant Step, dll.sudah ciptakan musik alternatif, tapi tetap di kalahkan oleh selera pasar (maklum selera pasaran ya pasti yang dijual ya kacangan)

Yockie Soerjoprajogo dalam LCLR 1977 dan 1978 adopsi rock progresif didominasi keyboard, seperti  pada Genesis, Yes, maupun Emerson Lake & Palmer.

LCLR 1979 Debby Nasution dan Addie MS  Arasemen, cenderung klasik dan rhythm and blues. Debby  kena pengaruh klasik Johann Sebastian Bach dengan suara hammond organ sedang Addie MS bergaya soul R&B ala Earth Wind & Fire.

LCLR 1980 Abadi Soesman dan Benny Likumahuwa kena pengaruh Jazz, memang saat th 80 Jazz memang lagi Trend.

berarti LCLR di Indonesia ini juga mengikuti TREND Dunia. Intinya menghasilkan produk musik dan lagu yg berkualitas dunia, bukan musik dan lagu lokal (kacangan atau pasaran) yg hanya bisa laris manis di negaranya sendiri.

Di awal 2000 an setelah digitalisasi musik, maka LCLR kreatif nyaris tidak ada lagi, karena band band lokal yg ingin tampil bisa lakukan rekaman indie (mandiri) diedarkan sendiri (atau tidak dibawah naungan Major Label) bisa lewat Myspace atau Youtube ata lainnya. Bahkan facebook.

Diskografi LCLR

01.  LCLR Prambors Rasisonia 1977 (Pramaqua 1977)
02. LCLR Prambors Rasisonia 1978 (Duba Records 1978)
03. LCLR Prambors Rasisonia 1979 (Duba Records 1979)
04. LCLR Prambors Rasisonia 1980 (Duba Record 1980)
05. LCLR Prambors Rasisonia 1981 (Lolypop Records 1981)
06. LCLR Prambors Rasisonia 1982 (Venus Records 1982)
07. LCLR Prambors Rasisonia 1987 (Team Records 1987)
08. LCLR Prambors Rasisonia 1988 (Atlantic Records 1988)
09. LCLR Prambors Rasisonia 1990 (Aquarius Musikindo 1990)
10.LCLR Prambors Rasisonia 1996 (Win Records 1996)

 

Maka mungkin bisa dikatakan masa kejayaan media analog, mulai berakhir di awal 2000 an. pada 2007 media kaset sudah nyaris punah.sedang harga CD atau VCD original saat ini harga resmi nya lumayan mahal untuk rakyat (maaf) dengan penghasilan rata rata (UMR), maka pilihan akhirnya pada lagu2 VCD/DVD bajakan, atau kompilasi album mp4 bajakan. Atau kalau toh ada yang original, maka masuk dalam paket hemat (tanpa cassing) hanya plastik dan cover tipis saja. dan itupun hanya untuk VCD atau DVD dengan audio yang apa adanya, kadang bass, medium atau treble tidak balance, volume yg tidak stabil, suara patah patah karena komputer editingnya untuk membajaknya tidak sesuai dengan Spesifikasi hardware, maka gambar menjadi kotak kota, suara mencicit, lompat, hicks (suara cegukan), dan lainnya, sedang format CD original dengan high quality masih lumayan mahal. Itu makanya Harga musik dan lagu CD lebih mahal, lagian cukup sulit untuk di Copy (harus dengan software conversi tertentu, itupun kalau tidak di protek) karena dalam bentuk path saja, Track 1,2,3 dst, maka kualitasnya masih terjamin. Walau dalam rumus digital, tidak akan dapat dibedakan lagi, mana yang Master dan mana yang Copy an. Kaena mutunya sama saja. Lain dengan analog (rel pita master) dan (rel pita copyan) akan sangat terasa bedanya, karena berdasarkan gesekan magnet (head) dengan pita secara mekanik.

 

Maka dalam paket hemat umumnya ada video klipnya, karena memang tidak mengutamakan audionya, yang penting visualnya dengan dukungan audio ala kadarnya, yang penting murah meriah.

Dan sejak bergantinya Orde Baru menjadi Era Reformasi, maka mulailah negara kita akrab dengan SEMBOYAN : Murah meriah, Paket Hemat, Diskon, Potongan Harga, Harga Gila, Harga Hancur, Harga Edan, Promo, Irit, Free, GRATIS, Bonus beli 1 dapat 2 dan lainnya . . .

Padahal SEMBOYAN kita itu DULU adalah : Sekali Merdeka tetap Merdeka ?

Kembali pada LCLR ini, ternyata telah melahirkan musisi remaja kreatif dan jenius.

Dibalik silhuet warna oranye di Cover Kaset dibawah ini ini tampak tampil dua orang, satu pake kacamata, ya, mereka berdua adalah juri LCLR, yaitu sosok : Keenan Nasution dan Donny Fatah. Saat suasana malam Final Lomba LCLR Prambors 1 th 1977 di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta

 

  

Fotonya Silhuet Oranye                    Foto Aktual

 

(Ringkasan dan pendapat penulis ini berdasarkan artikel : Artikel Denny Sakrie).

Terima kasih, Salam (untuk mengenang) Bung Denny Sakrie.

 

Sumber dari web lain :

Lomba Cipta Lagu Remaja (translated to Teenage Song Writing Competition) is a contest made by famous radio station Prambors to pick the best teen song that first held in 1977 and last held in 1996.


In 1978, Prambors held the "LCLR 1978". Ten best songs was released in cassette tape (the ten best songs in listed below) and becoming a huge success with the song 'Kidung' by Bram, Chris, and Dianne Manusama and 'Apatis' by Benny Soebardja as the signature song. The two songs is called the best songs of all time by Rolling Stone Indonesia in 2009 (former at 26th, latter at 63rd)

In 2007, Rolling Stone Indonesia placed "Lomba Cipta Lagu Remaja 1978" as the 3rd best Indonesian album of all time.

00:00 - 1. Kidung (Bram, Dianne, Chris Manusama)
04:15 - 2. Kelana (Dhenok Wahyudi & Jockie Suryoprayogo)
09:58 - 3. Sesaat (Benny Soebardja)
14:15 - 4. Khayal (Purnama Sultan)
18:24 - 5. Dalam Cita & Cinta (Dhenok Wahyudi)
22:36 - 6. Saat Harapan Tiba (Keenan Nasution)
27:07 - 7. Apatis (Benny Soebardja)
31:23 - 8. Resah (Purnama Sultan)
36:15 - 9. Yang Esa & Kuasa (Dhenok Wahyudi)
40:03 - 10. Awan Putih (Keenan Nasution)

Thank you to Prambors and all parties who having rights for this song.
I do not take any advantage on this broadcasting. 

Fri, 21 Apr 2017 @23:15

Event Tahun 2016

Musik Rock Era '70

Luar Negeri

yang populer di

Indonesia

 

Deep Purple

 

klik foto bawah, untuk 

mendengar lagu Deep Purple

 

 

Led Zeppelin

klik foto bawah, untuk 

mendengar lagu Led Zeppelin

 

 

Info terkini :


web stats

 

 

 

Web Site ini dalam

tahap persiapan

 

 

 

Pengunjung :


 

 

Jam    : 14:13


Flag Counter

 

Tanggal Hari ini :

 

 

Jam Hari ini : (Ina wib)


Language Translator :
In Google Menu 

ALWAYS START FROM :
INDONESIA TO : English
Indonesia - English

and the other choice


Google Translation
RSS Feed

Copyright © 2017 NUSWANTORO · All Rights Reserved